17 April 2010
Senin, 19 April 2010
Kamis, 15 April 2010
TUHAN SATU-SATUNYA PENGHARAPAN!
Renungan ini, untuk Vic. Diana Gandegoay, semoga Tuhan memberikan kekuatan dalam pelayanan mu
Baca: Mazmur 71:1-24
Mengapa Saya ?
Mengapa Saya ?
Arthur Ashe adalah petenis kulit hitam dari Amerika yang memenangkan tiga gelar juara Grand Slam; US Open (1968), Australia Open (1970), dan Wimbledon (1975). Pada tahun 1979 ia terkena serangan jantung yang mengharuskannya menjalani operasi bypass. Setelah dua kali operasi, bukannya sembuh ia malah harus menghadapi kenyataan pahit, terinfeksi HIV melalui transfusi darah yang ia terima.
Seorang penggemarnya menulis surat kepadanya,"Mengapa Tuhan memilihmu untuk menderita penyakit itu?" Ashe menjawab,"Di dunia ini ada 50 juta anak yang ingin bermain tenis,diantaranya 5 juta orang yang bisa belajar bermain tenis,500 ribu orang belajar menjadi pemain tenis profesional,50 ribu datang ke arena untuk bertanding,5000 mencapai turnamen grandslam,50 orang berhasil sampai ke Wimbeldon, empat orang di semifinal, dua orang berlaga di final.
Dan ketika saya mengangkat trofi Wimbledon, saya tidak pernah bertanya kepada Tuhan,"Mengapa saya?", Jadi ketika sekarang saya dalam kesakitan, tidak seharusnya juga saya bertanya kepada Tuhan,"Mengapa saya?" Sadar atau tidak, kerap kali kita merasa hanya pantas menerima hal-hal baik dalam hidup ini; kesuksesan, karier yang mulus, kesehatan. Ketika yang kita terima justru sebaliknya; penyakit, kesulitan, kegagalan, kita menganggap Tuhan tidak adil. Sehingga kita merasa berhak untuk menggugat Tuhan. Tetapi tidak demikian. Ia berbeda dengan kebanyakan orang. Itulah cerminan hidup beriman; tetap teguh dalam pengharapan, pun bila beban hidup yang menekan berat.Ketika menerima sesuatu yang buruk, ingatlah saat - saat ketika kita menerima yang baik...
“Sebab Engkaulah harapanku, ya Tuhan, kepercayaanku sejak masa muda, ya Allah.” Mazmur 71:5
Daud memiliki pengalaman luar biasa bersama Tuhan. Kita pun patut mengalaminya dan bisa belajar dari kehidupan Daud ini. Dalam berbagai persoalan yang dialami, Daud selalu menjadikan Tuhan sebagai benteng dan batu perlindungan. Ketika bahaya mengancam, Daud berdoa, “Jadilah bagiku gunung batu, tempat berteduh, kubu pertahanan untuk menyelamatkan aku; sebab Engkaulah bukit batuku dan pertahananku.” (ayat 3).
Bagi Daud tak seorang pun di dunia ini yang dapat menjadi jaminan keselamatan bagi jiwanya. Itulah sebabnya ia berkata, “...Engkaulah harapanku, ya Tuhan, kepercayaanku sejak masa muda, ya Allah. KepadaMulah aku bertopang mulai dari kandungan, Engkau telah mengeluarkan aku dari perut ibuku; Engkau yang selalu kupuji-puji.” (ayat 5-6). Daud sadar, apabila manusia menjadi tua dan renta akan menjadi beban bagi keluarganya. Banyak orang tua di masa tuanya disia-siakan, terbuang atau tersisih dari anak cucunya. Dalam pengharapannya Daud memohon kepada Tuhan, “Janganlah membuang aku pada masa tuaku, janganlah meninggalkan aku apabila kekuatanku habis.” (ayat 9). Kita yang lanjut usia pun tetap dikasihiNya, bahkan mendapat janji yang indah, “Sampai masa tuamu Aku tetap Dia dan sampai masa putih rambutmu Aku menggendong kamu. Aku telah melakukannya dan mau menanggung kamu terus; Aku mau memikul kamu dan menyelamatkan kamu.” (Yesaya 46:4).
Namun untuk mendapatkan pemeliharaan Tuhan yang indah ini kita harus setia dan tetap setia sampai akhir hayat kita. Jangan sekali-kali tinggalkan Tuhan, apalagi sampai 'bercabang hati' dengan mengharapkan ilah lain atau manusia. Ketika keadaan kita terpuruk dan miskin pun jangan sekali-kali terlintas dalam pikiran kita untuk berharap pada pertolongan manusia, sekali pun mereka itu orang kaya atau berpangkat. Kita harus berani berkata, “...aku ini sengsara dan miskin - ya Allah, segeralah datang! Engkaulah yang menolong aku dan meluputkan aku; ya Tuhan, janganlah lambat datang!” (Mazmur 70:6).
Pandang saja Yesus, karena Dialah sumber pengharapan kita, bukan yang lain!
Selasa, 13 April 2010
Tergelincir, Pesawat Merpati terpotong Dua
Berhenti Setelah Hantam Jembatan, Semua Penumpang SelamatTERGELINCIR. Pesawat Merpati Nusantara Airlines (MNA) jenis Boeing 737-300 dengan nomor penerbangan PK-MDE 836 yang terbang dari Sorong tergelincir saat landing di Bandara Rendani Manokwari, Selasa 13 April. (FOTO LAODE MURSIDIN/RADAR SORONG)
MANOKWARI -- Pesawat Merpati Nusantara Airlines (MNA) jenis Boeing 737-300 dengan nomor penerbangan PK-MDE 836 yang terbang dari Sorong sekitar pukul 10.55 WIT Selasa 13 April, tergelincir dan terempas ke sungai saat mendarat di Bandara Rendani, Manokwari.
Badan pesawat yang mengangkut 103 penumpang dan awak -- enam di antaranya bayi dan anak-anak itu-- baru terhenti setelah menghantam jembatan dan moncongnya mencium pinggir sungai. Saksi mata di sekitar bandara mendengar tiga ledakan keras menyerupai ledakan bom saat pesawat meluncur ke luar landasan pacu hingga akhirnya menghantam jembatan kecil sekitar dari 300 meter dari ujung landasan. "Sekali ledakan keras dan dua lainnya relatif kecil," ujar John Altion, petugas komunikasi Bandara Rendani, Manokwari.
Pantauan Radar Sorong (Group Fajar), badan pesawat terpotong menjadi dua bagian. Mesin pesawat bagian kiri terlepas dan terjatuh ke tanah, sementara moncongnya penyok serta bagasi terbuka. Akibatnya, sebagian besar penumpang menderita luka serius dan patah tulang. Meski begitu, semuanya berhasil dievakuasi ke luar dari badan pesawat dan dilarikan ke rumah sakit. Para penumpang yang terluka langsung dilarikan ke Rumah Sakit (RS) Dr Azhar Zahir Fasarkhan TNI AL, dan RUSD Manokwari. Di RS TNI AL, tercatat 41 orang yang dirawat, termasuk pilot Djoko Subiantoro, co pilot Agus Purnomo, dan tiga kru pesawat. Selebihnya, 43 penumpang dirawat di RSUD Manokwari.
Kepala RS TNI AL Manokwari, Mayor Laut (K) dr Franciscus Tannardus, menjelaskan bahwa 20 penumpang harus menjalani rawat inap karena cederanya tergolong serius. Sedang 21 lainnya sudah bisa langsung ke tempat tujuannya masing-masing setelah mendapat perawatan. Sementara di RSUD Manokwari, Pjs Ka RSUD, Pieter Ihalauw mengemukakan bahwa dari 43 penumpang yang mereka terima, 41 di antaranya harus dirawat inap. "Umumnya mereka terluka di kepala, tangan dan kaki. Ada juga yang alami gangguan abdomen," jelas Ihalauw saat ditemui di UGD.
Manajer Cabang MNA Manokwari, Riki Dede mengatakan, seluruh biaya perawatan penumpang menjadi tanggung jawab pihaknya. "Semua biaya perawatan menjadi tanggungan kami. Keluarga para penumpang tidak perlu cemas," ujarnya. Akibat insiden Merpati di Manokwari itu, GM Merpati Wilayah Makassar juga disibukkan. Informasi yang diperoleh dari pihak merpati menyebutkan, pihak Merpati Makassar akan menyusul ke Manokwari untuk mengecek penumpang yang berasal dari Makassar.
Penumpang Panik
Kepala Bandara Rendani Manokwari, Bambang Noroguntoro yang menjadi salah satu penumpang dari pesawat nahas ini menyatakan bahwa terjadi kepanikan luar biasa ketika pesawat tak bisa dikendalikan dan keluar landasan pacu. Hampir semua penumpang berteriak histeris. "Saat saya rasa pesawat terguncang, saya mencoba berlindung di balik tempat duduk. Kepala saya terbentur karena guncangan," ujarnya. Para penumpang makin panik ketika melihat pesawat terbelah.
Dengan perasaan takut, penumpang pun berusaha menyelamatkan diri lewat pintu depan dan pintu darurat. Meski letak pintu pesawat dan permukaan tanah relatif tinggi, para penumpang yang panik itu tetap nekat meloncat. Karena itulah beberapa di antara mereka menderita patah tulang kaki dan lengan. Hanya dalam waktu beberapa menit, suasana di sekitar lokasi kejadian menjadi ramai. Ribuan warga terus berdatangan untuk melihat dari dekat kejadian langka ini. Sempat terjadi kemacetan lalu lintas yang membuat aparat kepolisian kewalahan.
Cuaca Buruk
Bambang Noroguntoro yang baru sebulan bertugas di Bandara Rendani menjelaskan, pihaknya sudah mulai cemas saat pilot memutuskan melanjutkan penerbangan dari Sorong. Soalnya, saat itu cuaca lagi kurang bersahabat. "Setelah terbang dari Makassar dan mendarat di Sorong, penerbangan lanjutan sebetulnya sempat tertunda akibat cuaca buruk," ucap kepala Bandara Rendani, Manokwari ini. Menurutnya, pilot pesawat sudah diingatkan agar menunggu sesaat di Sorong karena cuaca di Manokwari sangat buruk. Tapi, setelah mendapat laporan bahwa pesawat Batavia Air yang juga terbang dari Sorong berhasil mendarat dengan selamat di Manokwari meski hujan deras, pilot juga memutuskan berangkat. Kapolres Manokwari, AKBP Bambang Ricky yang ditemui di lokasi kejadian menyatakan, pihaknya akan ikut melakukan penyelidikan. Saat peristiwa, jajarannya langsung diterjunkan untuk membantu evakuasi bersama anggota TNI dan SAR. "Kita belum tahu penyebab pastinya. Tapi, saat kejadian cuaca lagi ekstrem. Hujan tengah deras-derasnya," jelas Bambang.
Investigasi KNKT
Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) dijadwalkan hari ini terbang ke Manokwari untuk menyelidiki penyebab insiden Merpati ini. Rencana kedatangan Tm Investigasi KNKT itu diungkapkan Bambang Noroguntoro. "Ya, besok pagi (hari ini) tim investigasi akan datang untuk melakukan penyelidikan kecelakaan ini. Mereka (Tim KNKT) katanya akan berangkat sebentar malam (tadi malam)," ucap Bambang saat ditemui di ruang kerjanya siang kemarin. Kecelakaan pesawat berbadan lebar ini merupakan yang kedua kalinya di Bandara Rendani Manokwari dalam lima tahun terakhir. Pada, 5 Januari 2005 lalu, pesawat Celebes dengan nomor penerbangan XRE 810 juga tergelincir keluar landasan pacu. Sejumlah pihak masih mempertanyakan kelayakan Bandara Rendani Manokwari untuk didarati pesawat berbadan lebar jenis Boeing. Bandara yang terletak di tengah Kota Manokwari ini sekarang memiliki panjang 2000 m X 30 m, parkir/apron 124 m X 66,8 m. Pengembangan landasan pacu sulit dilakukan karena pada kedua sisinya terdapat laut dan sungai. (sah-jpnn)
Rabu, 07 April 2010
Waa

Lembah Waa terletak kurang lebih 6 Km arah barat kota Tembagapura, sebelum terbentuk struktur administrasi pemerintahan desa di lembah ini, terdapat sebuah kampung yang bernama Waa. Terdiri atas tiga dusun yaitu ; Kompoli Ogoma ( Banti I), Taganat Ogom (Banti II – pusat pemerintahan desa) dan Kampung Opitawak.
Masyarakat di Kompili Ogoma di huni oleh suku Amungme, yang bermarga Jamang, Dusun Opitawak oleh marga Omabak, sedangkan Utikini dihuni oleh kaum Omaleng dan Natkime.
Taganat Ogom atau Tagabela (Banti II) dibuka setelah masyarakat dipindahkan dari Utikini. Karena di Utikini sangat rawan banjir dan longsor serta sering terjadi perang suku antara orang Damal, dani dan Moni dengan suku Amungme.
Perpindahakn penduduk dari Utikini ke Banti II (Tagabela) terjadi pada tahun 1997, setelah terjadi longsor di Utikini. Desa Waa Banti memiliki batas-batas sebagai berikut ;
Sebelah Utara dibatasi dengan Grasberg ( gunung es – nemangkawi)
Sebelah selatan di batasi dengan dusun Tawulawagon ( Mile 38)
Sebelah Timur dengan Ilamatgal ( mile 64)
Sebelah barat berbatasan dengan Aroanop ( gunung Botak)
Masyarakat di Kompili Ogoma di huni oleh suku Amungme, yang bermarga Jamang, Dusun Opitawak oleh marga Omabak, sedangkan Utikini dihuni oleh kaum Omaleng dan Natkime.
Taganat Ogom atau Tagabela (Banti II) dibuka setelah masyarakat dipindahkan dari Utikini. Karena di Utikini sangat rawan banjir dan longsor serta sering terjadi perang suku antara orang Damal, dani dan Moni dengan suku Amungme.
Perpindahakn penduduk dari Utikini ke Banti II (Tagabela) terjadi pada tahun 1997, setelah terjadi longsor di Utikini. Desa Waa Banti memiliki batas-batas sebagai berikut ;
Sebelah Utara dibatasi dengan Grasberg ( gunung es – nemangkawi)
Sebelah selatan di batasi dengan dusun Tawulawagon ( Mile 38)
Sebelah Timur dengan Ilamatgal ( mile 64)
Sebelah barat berbatasan dengan Aroanop ( gunung Botak)
Penduduk di desa ini terdiri dari suku-suku pedalaman, dimana pemegang hak ukayatnya adalah suku Amungme. Sedangkan suku yang menempati tempat ini disebabkan karena adanya jalinan perkawinan antar suku dan faktor ekonomi
Selasa, 06 April 2010
Tiap Badai akan berakhir
Saya mengalami kehilangan baru-baru ini, si maling membobol rumah dan mengambil beberapa barang ku termasuk uang dan dompet yang berisi kartu kredit dan ATM? ada rasa sedih bila kita mengalami hal seperti ini.
saya percaya masih banyak orang lain yang mengalami lebih dari apa yang saya alami mungkin kehilangan Pekerjaan? Suatu hubungan? Barang-barang dicuri? kehilangan rumah karena bencana bahkan kehilangan orang-orang yang sangat kita kasihi .
Beberapa teman mengatakan kepada saya bahwa apa yang paling menyakitkan adalah kehilangan semua foto-kenangan seumur hidup . Teman, aku punya pesan untuk Anda hari ini: Percayalah bahwa setiap badai akan berakhir. Dan setelah badai, pagi baru dimulai. Ingat bahwa setiap kehilangan adalah sementara. Jika Anda kehilangan orang yang dicintai, kehilangan itu hanya sementara.
Jika Anda kehilangan hal-hal material atau peluang atau hubungan, percaya bahwa Allah sedang menciptakan ruang bagi sesuatu yang lebih baik untuk menghampiri Anda. Bagaimana hal ini akan menjadi "lebih baik" ? Mulai bersyukur. Ini bukan kesalahan ketik. Di tengah kehilangan Anda, bersyukur.
Aku tahu kau akan mengeluh, "Bo, bagaimana bisa bersyukur! Aku kehilangan setengah hidupku! " Yah, bersyukur atas setengah yang lain yang Anda masih miliki. Jangan berfokus pada apa yang hilang, berfokuslah pada apa yang masih Anda punyai. Anda punya banyak sekali hal-hal yang baik ! Katakanlah ini bersama-sama dengan saya, "Aku sangat diberkati untuk bisa menjadi stres." (Bukan asli dari saya. Saya dapatkan dari stiker.) Mengapa bersyukur? Karena Anda akan menarik hal-hal yang Anda fokuskan. Aku sudah mengatakan sebelumnya berkali-kali, tapi aku akan terus mengatakan hal itu sampai Allah memanggilku pulang. Karena hal tersebut sangat memiliki kekuatan. Ketika Anda bersyukur, Anda akan menarik lebih banyak berkat dari apa yang Anda syukuri. Syukur adalah magnet berkat.
INSPIRATION
Setiap Badai Akan Berakhir
Share From Facebook dengan sedikit penambahan pengalaman ku
Setiap Badai Akan Berakhir
Share From Facebook dengan sedikit penambahan pengalaman ku
WOO (NAGA)- ceritera rakyat dari Desa Iwaka
Pada masa yang silam, di daerah Mimika Barat Jauh, di sebuah dusun (nama dusun terlupakan) hidup sekelompok masyarakat yang primitif.
Alkisah ada 2 (dua) orang pemuda pergi ke hutan untuk berburu dan dalam perburuan, mereka menemukan sebutir telur yang disangka telur kasuari tetapi ternyata telur Ular Naga (Woo). Setelah tiba kembali di desa, telur tersebut disimpan di dalam Torora, sejenis kopor yang dibuat dari daun pandan (Kopa).
Ketika telur tersebut menetas, keluarlah seekor Ular Naga (Woo) yang langsung memakan habis penduduk desa tersebut. Yang luput hanyalah dua orang ibu yang pergi ke dusun untuk menogok sagu.
Selesai membunuh penduduk desa tadi, sang Naga menanti kembalinya ke dua ibu yang sedang pergi menogok sagu. Ketika perahu yang ditumpangi ke dua ibu tadi merapat ke pantai, mengamuklah sang Naga dan menerkam ke dua ibu tadi. Salah satu ibu berhasil dibunuhnya, sementara ibu yang lain, yang sedang hamil berhasil meloloskan dirinya.
Hari berganti hari, bulan berganti bulan dan tahun berganti tahun, akhirnya lahirlah seorang anak laki-laki dari kandungannya. Oleh ibunya, anak ini kemudian dibesarkan dan dilatih keterampilan berburu, bertani, memanah dan lain-2 nya sebagaimana layaknya seorang pemuda desa. Sementara itu ia juga dinasehati untuk tidak pergi jauh dari batas desa/kampungnya.
Sekalipun sudah dinasehati demikian, pada suatu hari anak tersebut mengejar seekor binatang sampai jauh melewati batas desa/kampungnya. Dalam perburuannya anak ini berjalan ke arah Selatan dan akhirnya sampai di desa di mana sang Naga berdiam. Pertemuan dan pertengkaran antara sanng anak dan Naga tidak dapat dielakkan dan akhirnya terjadi pertempuran sengit antara ke duanya. Sang anak akhirnya berhasil menewaskan Naga kemudian memotong-motong dagingnya dan membuangnya menurut arah ke empat Mata Angin.
Menurut cerita, daging yang berlemak banyak dibuang ke bagian Barat, maka hiduplah bangsa manusia berkulit putih sedangkan daging yang tidak berlemak di buang ke bagian Timur maka hiduplah manusia yang berkulit hitam.
Kimbeli
Lokasi kimbeli sekitar 4 Km dari Kota Tembagapura ke dalam cekungan lembah Waa. Sebelum memasuki kampung Banti hanya dibatasi oleh jembatan Aghawagong depan Banti I. Permukiman Kimbeli terletak pada lereng-lereng pinggir jalan menuju kampung Waa - Banti berhadapan dengan aliran sungai Aghawagong. Dulu lahan ini milik Marga Omaleng dan Natkime. Saat namun sekarang dominan dihuni oleh orang Dani – Damal. Rumah – rumah penduduk kebanyakan berbentuk honai tidak ada sarana dan fasilitas pendidikan maupun kesehatan. Pertambahan jumlah penduduknya semakin cepat, sementara ketersediaan lahan untuk berkebun sangat terbatas. Hal ini mendesak penduduk Kimbeli lebih Agresif membuka hutan pada lereng di sepanjang sungai Aghawagong untuk berkebun. Beberapa honai juga sudah dibangun membentuk permukiman di tepian sungai.
Sementara Utikini Lama yang pernah di tahun 1998, dijadikan kawasan terbatas karena rawan longsor kini telah menjadi permukiman baru yang terdiri dari camp-camp pendulang. Sungai Aghawagon/ kali Kabur bukan saja menarik perhatian suku-suku pedalaman namun juga para pendatang dari Luar Papua yang telah membaur dalam permukiman ini. Herannya, sistem pengamanan dan akses masuk ke Tembagapura yang begitu ketat dari Mile 28 hingga mile 66 bahkan Kota Tembagapura sendiri dikelilingi pagar namun para pendatang ini semakin bertambah.
Melihat kondisi kawasan terbatas yang sudah ramai dengan honai serta kamp-kamp pendulang, pemandangan pada lereng-lerang gunung dipinggir sungai Aghawagong mulai gundul, maka kawasan ini boleh dibilang rawan banjir dan longsor saat ini .
Selain mendulang ada beberapa faktor lain yang memotivasi suku Dani – Damai, Moni dan Nduga memasuki Kimbeli, antara lain telah terjadi perkawinan antar suku Amungme dengan suku pendatang, Lembah Waa merupakan sebuah kawasan yang boleh dibilang cukup ramai bagi sebuah desa di pedalalaman dimana terdapat semua fasilitas dan sarana penunjang. Rata-rata para penduduknya adalah usia produktif (pekerja).
Jelas bahwa pertumbuhan penduduk Mimika baik di dataran tinggi maupun dataran rendah dari waktu ke waktu terus mengalami peningkatan yang sangat cepat seiring dengan operasi PTFI dan lahirnya kabupaten Mimika di tahun 1999 sehingga pertumbuhan penduduk di Timika mencapai (16.9%) dari tahun 1973 ~ 2004 . Keberadaan PTFI di Bumi Mimika masih mendominasi daya tarik dan Harapan bagi pendatang dan Masyarakat setempat. Meningkatnya kaum pendatang, termasuk suku-suku dari pegunungan yang bergabung dalam program transmigrasi lokal ke dataran rendah maupun mereka yang datang sendiri dari berbagai tempat sekitar Mimika turut mempengaruhi kondisi sosial yang dinamis.
Langganan:
Postingan (Atom)
